Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Rhizome FISIP Unsoed Gelar Bedah Buku Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia

Unit Kegatan Mahasiswa (UKM) Rhizome FISIP Unsoed kembali tunjukkan kiprahnya sebagai insan akademik. Setelah beberapa kali melakukan kajian-kajian atas permasalahan di Banyumas melalui Lingkar Kajian Banyumas yang dibidaninya, Kamis (12/10) bertempat di Aula FISIP Unsoed, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Rhizome mengadakan Bedah Buku karya Wasisto Raharjo Jati yang berjudul Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia. Hadir dalam acara bedah buku, Pembina UKM Rhizome Dr. Hariyadi, M.A.,Ph.D., juga sebagai pembedah buku,  Penulis buku Wasisto Raharjo dan sebagai pembedah lain Dr. Luthfi Makhasin, S.IP., M.A ., juga Ketua Jurusan Ilmu Politik FISIP Unsoed, serta para mahasiswa FISIP Unsoed dari berbagai Jurusan.

Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan Inggit Rahmawati, mahasiswa Jurusan Ilmu Politik tahun 2016 dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan bedah buku ini dimaksudkan untuk meningkatkan suasana dan budaya ilmiah di kalangan mahasiswa, selain itu juga untuk melatih mahasiswa berpikir kritis dan analitis atas suatu karya ilmiah. Pembina UKM Rhizome FISIP Unsoed dalam sambutan pembukaannya menyatakan apresiasinya  terhadap kegiatan yang dilaksanakan UKM Rhizome, kegiatan yang menuntut seseorang berpikir kritis dan ilmiah. “Suatu upaya yang tidak mudah bahkan berat untuk dilakukan ditengah-tengah budaya hedonis yang merebak kuat di tengah-tengah kita,” tegasnya. UKM Rhizome, memang unit kegiatan mahasiswa yang bergerak dalam bidang kajian-kajian ilmiah.

Mengawali paparannya Wasisito Raharjo  menyampaikan kemunculan kelas menengah muslim Indonesia. “Sebenarnya konsep kelas tidaklah dikenal dalam islam, namun lebih condong kepada penguatan sebagai seorang umat. Konsep kelas ini sebenarnya lebih digunakan untuk menunjukan adanya alienasi dan diskriminasi sosial politis terhadap umat islam, saat ini konsep kelas menengah menjadi penguat adanya kebangkitan umat secara sosial politik dalam ruang publik” jelas Wasis. Ada empat perspektif yang gunakan dalam pendekatan politik dalam memahami kelas menengah muslim Indoneisa, yaitu perspektif strukturalisme, modernisme, sosialisme dan konservatif. “Kelas menengah muslim Indonesia adalah kelompok kelas menengah yang menggunakan prinsip, norma, dan nilai islam sebagai identitas politik individu dan kelompok yang berkembang sesuai peristiwa politik saat itu” tegasnya wasis.

Santrinisasi dan resentranisasi kelas menengah muslim bepengaruh signifikan terhadap pertumbuhan kelompok kelas menengah muslim Indonesia. Islam populer sebagai ekspresi kelas menengah muslim Indonesia. Islam populer dalah bagian dari upaya mempopulerkan islam dalam bentuk komoditas visual dan materi, adanya urban sufisme di kalangan kela menengah muslim Indonesia dengan adanya fenomena High Tech, High Touch, dan adanya Kesalehan sosial yang merupakan upaya membentuk soliditas dan solidaritas sebagai kelas dan yang terakhir adalah Populisme di kalangan kelas menengah yang muncul sebagai respon aliansi antar elemen dalam kelas menengah kelas menengah muslim Indonesia.

Hariyadi, PhD., sebagai pembedah pertama memandang bahwa bentuk budaya populer Islam, dalam konteks konsumsi dikaitkan dengan bagaimana kaum muda muslim mengkonsumsi simbol-simbol keislaman. “Yang perlu kita lacak lebih jauh lagi bagaimana  kaum muda muslim Indonesia memahami dirinya dan membentuk identitasnya,” jelasnya. Hal itulah yang disebut dengan pergulatan identitas kaum muda muslim Indonesia. “Dapat dikatakan pemuda islam Indonesia tidak sepenuhnya bebas dan tidak sepenuhnya terkungkung oleh aturan yang ada”, tegasnya.

Dr. Luthfi Makhasin, sebagai pembedah kedua memandang bahwa buku ini sebenarnaya membuka kembali ruang dialog lama yang sudah tertutup tetapi tidak datang dari yang memiliki latar belakang politik dan pemerintahan. Buku ini memberikan beberapa jawaban sementara atas beberapa kondisi umat islam di negeri ini. Lebih lanjut dijelaskan bahwa ternyata populasi umat islam tidak berbanding lurus dengan pilihan mereka pada saat pemilu. Adanya konsep Urban sufisme adalah bagaimana gaya konsumsi gaya baru kelompok menengah muslim indonesia dengan berbagai ritual-ritual komunitas kecil yang menunjukan bahwa konsep sufisme bukan hanya menjadi obat setres tetapi menjadi sesuatu yang sangat trendi. Dan yang terakhir adalah adanya konsep fashion yang saat ini merupakan salah dari ekspresi kelas menengah mulim Indonesia dalam bentuk visual dan materi.

Rhizome FISIP Unsoed..., Maju Terus Pantang Menyerah…..!!!
 

You are here