Purwokerto, 29 Juli 2025 – Forum Paparan Data Lanjutan Rencana Aksi Daerah (RAD) Kepemudaan merupakan salah satu bentuk hasil kerjasama antara Laboratorium Sosiologi dengan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas dalam bidang riset kepeloporan, kepemimpinan dan kewirausahaan pemuda. Kegiatan yang digelar selasa (29/07) di Auditorium FISIP Unsoed, menghadirkan berbagai masukan penting dari organisasi kepemudaan (OKP), instansi pemerintah, dan perwakilan organisasi masyarakat. Fokus diskusi tertuju pada perlunya pelatihan berkelanjutan, penguatan potensi lokal, serta kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan kemandirian pemuda di Kabupaten Banyumas.

Dalam forum tersebut, Dian Ariani dari Nasyiatul Aisyiyah Banyumas menyoroti perlunya inovasi dalam pemberdayaan pemuda agar tidak terpusat di tingkat pimpinan saja, tetapi menjangkau hingga ranting dan cabang. Dian mencontohkan keberhasilan pendirian BMT dengan omzet Rp12 Miliar sebagai hasil proses panjang yang kini diikuti program baru berbasis pertanian dan perkebunan. “Kami sudah mempraktikkan pengembangan usaha di sektor perikanan melalui produksi abon lele di Tambak dan Cilongok, serta mempersiapkan lahan pertanian di Karanglewas dan Ajibarang yang akan dimulai September mendatang. Namun, setiap wilayah memiliki potensi yang berbeda, sehingga pemanfaatan basis massa di tingkat ranting dan cabang menjadi sangat penting,” ujar Dian. Ia menambahkan, “Harapan kami, program pemerintah tidak berhenti pada pelatihan saja, tetapi berlanjut dengan pendampingan, evaluasi, dan kerja sama berkesinambungan.”
Menanggapi hal tersebut, perwakilan Dinporabudpar mengakui bahwa pemberdayaan pemuda masih belum terlihat maksimal. Dinporabudpar menyampaikan rencana pengalokasian anggaran untuk pelatihan kewirausahaan disertai penyediaan peralatan usaha pada tahun 2026. Program ini akan dilaksanakan melalui proses seleksi ketat guna memastikan hanya peserta yang benar-benar berminat di bidang kewirausahaan yang terlibat. Dana bergilir melalui kerja sama dengan Dinas Perindag juga disebutkan sebagai alternatif untuk mendukung UMKM pemuda.
Sementara itu, Sigit Bayu dari Dinas Koperasi dan UKM menekankan pentingnya aksi nyata di lapangan dan keterlibatan lintas dinas sejak awal agar program RAD dapat berjalan efektif. Ia mencontohkan pengalaman RAD penanggulangan kemiskinan yang melibatkan DLH, Dinas Perikanan, Dinas Pendidikan, hingga BAZNAS untuk memberikan bantuan ayam petelur, bibit lele, dan pelatihan pakan maggot secara terintegrasi. Diskusi juga memunculkan aspirasi agar OKP mendapatkan pelatihan yang sesuai dengan potensi wilayah masing-masing. Riki, perwakilan Pemuda Muhammadiyah, menilai pelatihan kewirausahaan tidak bisa diseragamkan. “Setiap wilayah punya karakteristik berbeda. Lumbir misalnya, tidak cocok untuk pelatihan barista. Pertanian dan peternakan modern seharusnya juga menjadi prioritas sesuai kebutuhan lokal,” ungkapnya.
Selain itu, sejumlah perwakilan OKP dan forum pemuda meminta agar akses dana CSR dan bantuan pemerintah daerah tidak hanya diberikan kepada jaringan tertentu, melainkan merata untuk seluruh organisasi kepemudaan. Mereka berharap adanya jembatan antara pemerintah daerah, dewan, dan KNPI agar bantuan dapat disalurkan lebih adil dan tepat sasaran.
Pada penutup forum, Pak Lilik dari Dinporabudpar menyimpulkan bahwa mayoritas OKP mengharapkan program pelatihan berkelanjutan, terutama bagi pengurus OKP, agar dapat membangun SDM unggul dan pemberdayaan berbasis potensi masing-masing wilayah. Forum ini menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam mewujudkan RAD Kepemudaan yang lebih efektif. Berbagai masukan yang disampaikan, mulai dari pentingnya pelatihan berkelanjutan, pemetaan potensi wilayah, hingga pemerataan akses bantuan, menjadi catatan penting yang perlu ditindaklanjuti secara nyata di lapangan.
Dengan adanya komitmen lintas sektor dan rencana penguatan program di masa mendatang, diharapkan pemuda Banyumas dapat memperoleh ruang yang lebih luas untuk berkembang, berdaya saing, dan mandiri. RAD Kepemudaan ini diharapkan tidak hanya menjadi dokumen perencanaan semata, tetapi mampu menghadirkan dampak nyata bagi kesejahteraan dan pemberdayaan pemuda di seluruh wilayah Banyumas.
#Unsoed1963
#MerdekaMajuMendunia
#Fisip
#SDG
#Kampusberdampak