Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Simbiosis Ijasah Palsu (bagian 1)

Beberapa waktu yang lalu, dunia pendidikan kembali dikejutkan dengan masalah “moralitas” anak bangsa yang terkait erat dengan pendidikan tinggi (PT). Kemenristek-Dikti menemukan indikasi penyebaran ijasah palsu di beberapa PT di Indonesia. Tercatat ada 17 PT yang diduga terlibat dalam praktik jual beli ijasah palsu tersebut. Yang lebih tragis, terdapat oknum penikmat ijasah palsu tersebut yang menjabat sebagai rektor.

Simbiosis Mutualisme

Gejala jual beli ijasah palsu sebenarnya telah “tercium” oleh Ivan Illich (1926-2002), seorang sejarawan asal Austria yang juga memiliki minat pada masalah pendidikan. Illich yang semula ada sekorang pastur melihat bahwa dalam kehidupan masyarakat modern, sekolah diposisikan sebagai sebuah “agama baru”.

Sekolah dimaknai sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Dengan bersekolah, masyarakat mudah mendapatkan segalanya: pekerjaan, gelar, status sosial, kesuksesan, dan sebagainya. Illich menganalogikan sekolah sebagai sebuah agama. Bila sekolah menjanjikan kesuksesan, maka agama menjanjikan keselamatan surga. Bila individu ingin meraih surga, maka ia harus beragama. Maka, untuk bisa meraih kesuksesan, individu harus bersekolah.

Hal ini menguatkan pandangan bahwa manusia membutuhkan sekolah, dan mereka harus bersekolah untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Setelah bersekolah, individu berhak mendapatkan selembar ijasah sebagai bukti bahwa ia “telah bersekolah”. Mereka pun dapat melakukan segalanya: melamar pekerjaan, mendapatkan pengakuan atau status. Sebagian di antaranya menggunakannya untuk tujuan praktis, misalnya untuk meraih jabatan tertentu, atau menaikkan harga jual ketika mencalonkan diri sebagai calon legislatif atau kepala daerah. Masyarakat pun semakin terpana dengan deretan gelar panjang yang disandang seseorang.

Bourdieu (2004) kemudian menyebutkan bahawa ijasah menjadi modal budaya. Ijasah akan memengaruhi bagaimana seorang individu harus bertindak dengan kelompok sosialnya. Seseorang yang berijasah SD akan berbeda gaya hidupnya dengan seseorang yang berijasah SMA, sarjana, master, bahkan seorang doktor.

Masyarakat pun akan memiliki perbedaan dalam memperlakukan seorang lulusan SD atau SMA. Mereka sangat menghormati dan memperlakukan secara istimewa seorang sarjana, bahkan seorang doktor.

Kedudukan sekolah dalam masyarakat tersebut kemudian dimanfaatkan oleh sebagian kelompok untuk “memenuhi” kebutuhan masyarakat akan sekolah. Sebagian di antaranya berusaha memenuhinya dengan menggunakan cara negatif: jual beli ijasah; tanpa sekolah atau kuliah, ijasah dapat diperoleh dengan sangat mudah.

Tawaran ini dimanfaatkan sebagian “konsumen nakal”. Mereka adalah orang-orang yang enggan bersusah payah, enggan belajar, tak punya waktu untuk mengikuti kuliah, namun memiliki modal tinggi. Mereka mampu membayar lebih mahal asalkan mereka dapat menerima ijasah dengan cara instan. Dalam ekonomi, ini sama dengan prinsip “ada permintaan, maka ada penawaran”.

Di sini, maraknya jual beli ijasah palsu dilandasi hubungan simbiosis mutualisme. Sebagian masyarakat butuh ijasah secara mudah, di sisi lain, “kebutuhan” ini dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab...(Bersambung...)
 

You are here