Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Pola Asuh Dan Pendidikan Murid – Murid “Down Syndrom” SLB B – C Dharma Wanita Di Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan Jawa Barat

标题Pola Asuh Dan Pendidikan Murid – Murid “Down Syndrom” SLB B – C Dharma Wanita Di Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan Jawa Barat
Publication TypeStudent Thesis
AuthorsSeptriyanti, Nurul
Call NumberSOS.888
Other NumbersF1A012056
PublisherUniversitas Jenderal Soedirman
Place PublishedPurwokerto
Year of Publication2017
Date Published09/2017
Abstract

Anak down syndrome termasuk dalam kategori kebutuhan khusus. Berdasarkan data dari Yayasan Sindroma Down Indonesia, jumlah penderita down syndrome, tercatat 98.120 orang di Provinsi Jawa Barat. Secara fisik maupun mental memang terlihat jelas perbedaan antara manusia normal dan penyandang down syndrome. Akan tetapi, masih ada potensi luar biasa yang dapat mereka kembangkan. Potensi itu jika dieksplorasi secara maksimal akan memunculkan kemandirian. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran keluarga dan sekolah dalam mengembangkan kemandirian anak down syndrome di SLB B-C Dharma Wanita, khususnya. pola asuh dan pola pendidikan yang diterapkan orang tua dan guru bagi anak down syndrome. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sasaran penelitiannya adalah guru serta orang tua siswa/siswi penderita Down syndrome di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita. Teknik penentuan informan yang digunakan adalah purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan analisis interaktif dan validasi data menggunakan teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin kesimpulan. Pertama, peran orang tua terhadap anak down syndrome terkait pengembangan kemandiriannya adalah sebagai pendamping dan pengawas. Di dalam penerapannya, kedua peran tersebut dilakukan orang tua dilakukan melalui keterlibatan aktif orang tua di setiap kegiatan anak down syndrome khususnya ketika anak belajar hal-hal terkait kemandirian seperti berpakaian, mandi, dan belajar menulis/menggambar. Sementara itu, peran guru yang dilakukan adalah sebagai pemberi contoh. Di dalam penerapannya, peran tersebut dilakukan saat proses pembelajaran kemandirian dengan cara guru mempraktekan terlebih dahulu kemudian murid down syndrome diarahkan dan dibimbing secara bertahap untuk mengikuti apa yang dicontohkan oleh pengajar tersebut. Kedua, terkait pola pengasuhan dan pola pendidikan bagi anak down syndrome yang diterapkan oleh orang tua di rumah dan guru di sekolah. Keduanya sama-sama menerapkan pola yang sama, yakni pola pengasuhan dan pola pendidikan demokratis. Di lingkungan rumah, pola pengasuhan demokratis diterapkan dengan melakukan pendekatan emosional kepada anak melalui komunikasi dan interaksi yang dilakukan secara bertahap. Sementara itu, di lingkungan sekolah, pola pendidikan demokratis diterapkan oleh guru SLB B-C Dharma Wanita dengan cara memberikan peluang untuk berkreasi dan diberikan kebebasan. Seperti contohnya murid down syndrome dibebaskan untuk menggambar, namun tetap diberikan bimbingan mengenai pedoman gambar yang benar. Hal ini dimaksudkan supaya anak down syndrome tidak merasa terkekang.

KeywordsDown Syndrome, Pola Asuh, Pola Pendidikan
Citation Key3183
You are here