Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Cara Mendongkrak IPK

INDEKS Prestasi Komulatif (IPK) tinggi adalah dambaan setiap mahasiswa. Bagaimana tidak?  Ia adalah parameter umum untuk menentukan sukses tidaknya seorang mahasiswa atau sarjana. Bahkan, rata-rata perusahaan mencantumkan IPK minimal 3,00 sebagai syarat melamar pekerjaan.

Namun, meraih IPK tinggi bagi mahasiswa tidaklah mudah. Hal ini karena banyak mahasiswa yang tidak bisa memaknai kuliah. Kuliah semata-mata dianggap sebagai cara mereka untuk mendapatkan tiket guna memasuki gelanggang kompetisi bernama lowongan pekerjaan.

Anggapan tersebut sebetulnya dapat melahirkan sikap pragmatisme, menghalalkan segala cara. Mulai dari titip tanda tangan di lembar presensi kuliah, menyontek, membuat makalah dengan copy paste, dan sebagainya (faktor-faktor yang sifatnya kuantitatif). Sikap pragmatisme yang melahirkan satu persepsi bahwa nilai akhir mata kuliah hanya dipengaruhi oleh nilai ujian semester dan tanda tangan presensi.

Sekilas memang benar bahwa keduanya berpengaruh terhadap nilai akhir, tetapi sebenarnya tidaklah dominan. Berdasarkan pengalaman Agus M Irkham, penulis buku 24 Cara Mendongkrak IPK, ada banyak faktor di luar nilai ujian semester dan presensi yang turut pula mempengaruhi nilai akhir, yaitu hal-hal yang lebih melibatkan kecerdasan emosional dari pada intelektual (faktor-faktor yang bersifat kualitatif).

Faktor Pendukung
Faktor-faktor yang harus di perhatikan seorang mahasiswa dalam meraih IPK tinggi tersebut, antara lain: menyangkut posisi duduk: keaktifan di kelas; sikap dan cara berkomunikasi dengan dosen; dan hal-hal yang tertanam pada jiwa seorang mahasiswa cerdas, baik secara akademik, maupun nonakademik.

Terkait dengan posisi duduk, ada sebagian mahasiswa yang karena sikap apatisnya terhadap kuliah, merasa tidak nyaman ketika duduk di depan. Padahal, duduk di depan itu dapat "memaksa" mahasiswa menjadi cerdas. Mahasiswa akan mendisiplinkan diri, tepat waktu, berpakaian rapi sesuai dengan aturan kampus, dan secara psikologis, akan lebih fokus dalam kegiatan belajar di kelas.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah rajin bertanya saat kuliah. Jangan sampai mahasiswa itu sungkan bertanya hanya gara-gara takut disangka bodoh. Dosen akan senang ketika ada mahasiswa yang mau bertanya. Karena munculnya pertanyaan itu dipersamakan dengan antusiasme dan keseriusan mahasiswa dalam mengikuti mata kuliah.

Ironisnya, faktor-faktor tersebut acap kali dilupakan. Walau tampaknya sepele, tapi poin-poin di atas dapat mendorong mahasiswa untuk menggantungkan harapan akan nilai yang tinggi dari seorang dosen.

Oleh : Khotibul  Umam, pegiat Depus Institute, mahasiswa Program  Beasiswa
Santri Berprestasi (PBSB) Kemenag di IAIN Walisongo Semarang.

 

You are here