Pengabdian Masyarakat Internasional FISIP: Menyapa Yang Jarang Tersapa

Jumlah pemilih pemula  pada Pemilu 2024 nanti cukup banyak. Berdasar hasil pemutakhiran data KPU jumlah pemilih pemula diperkirakan lebih dari setengah juta orang. Pemilih pemula adalah para pemilih yang nanti pada saat pemungutan suara 14 Februari 2024 akan berusia 17 tahun. Di tanah air, para pemilih pemula ini sebagian besar telah tersapa oleh pemerintah melalui instansi-instansi terkait seperti Kementerian Dalam Negeri dan Dinas Kesbangpol, maupun oleh penyelenggara pemilu (KPU dan Bawaslu) melalui program pendidikan politik pemilih pemula di sekolah-sekolah menengah pada tingkat SMA dan SMK.

Akan tetapi, program-program tersebut belum bisa dinikmati oleh para pemilih pemula yang mengenyam pendidikan di luar tanah air. Yakni putra-putri bangsa dari para WNI yang bekerja sebagai buruh migran dan harus membesarkan anaknya di luar negeri. Diantara mereka adalah siswa dan siswi Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) di Sabah, Malaysia. Sejauh ini mereka jarang tersapa oleh program pendidikan pemilih. Sebagai warga negara mereka berhak mendapatkan pendidikan politik agar dapat menggunakan hak konstitusionalnya dengan baik dan berkualitas.

Karenanya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (FISIP UNSOED) bekerjasama dengan KBRI menyelenggarakan pengabdian masyarakat bagi para pemilih pemula di SIKK Sabah Malaysia. Kegiatan ini telah berlangsung pada Kamis (19/1) lalu yang bertempat di Gedung Multimedia SIKK. Dalam program permulaan ini, FISIP UNSOED menugaskan Dosen Jurusan Ilmu Politik, Ahmad Sabiq sebagai narasumber pendidikan pemilih.

“Selain ditentukan oleh proses pemilu yang demokratis, pemilu yang berkualitas juga sangat ditentukan oleh para pemilih yang secara sadar menggunakan hak pilihnya,” kata Sabiq yang juga merupakan Kepala Laboratorium Ilmu Politik FISIP UNSOED itu. 

“Pemilih akan jatuh hanya sekedar sebagai penonton manakala ia tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang kandidat dan manakala tidak mampu menggunakan kebijakan dan akal sehatnya untuk memilih kandidat yang pantas, ” tegasnya di hadapan sekitar 100 peserta pendidikan pemilih yang diikuti oleh para pengurus OSIS dan siswa Kelas XII.

Kepala Sekolah SIKK, Dadang Hermawan, M.Ed menyambut baik kegiatan pengabdian ini karena dapat meningkatkan pengetahuan para siswa tentang pemilu, partai politik dan demokrasi serta bisa menjadi bekal persiapan mereka pada saat pertama kali menggunakan hak pilihnya di tahun 2024 nanti.

Salah satu sesepuh masyarakat Indonesia di Negeri Sabah yang hadir pada kesempatan tersebut, Haji Abdul Mukti Syaubari, menginginkan agar program pengabdian masyarakat FISIP UNSOED di SIKK ini dapat berkelanjutan. Ia dan masyarakat Indonesia telah mengaspirasikan disediakannya pendidikan bagi putra putri tenaga kerja migran di Sabah sejak 1983 dan berharap putra putri Indonesia ini semakin tersapa sebagai anak bangsa.

Salam FISIP! Salam solidaritas!