Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Kuliah dan Pendidikan Organisasi Untuk Mencapai Nilai Mahasiswa Plus

Kata banyak orang, IPK hanya mengantarkan pada meja wawancara, tetapi nanti yang mengantarkan ke meja direktur, adalah pengalaman dalam berinteraksi dengan orang. Memang, pendapat seperti ini tidaklah salah, malah bisa dikatakan benar. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana budaya kita dalam mengatur organisasi mahasiswa tersebut ketika sudah kuliah dan bergabung dalam sebuah organisasi. Banyak yang akan kita rasakan, mulai dari hal yang biasa sampai yang luar biasa. Bahkan menurut Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, untuk sukses dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan tantangan pada dunia riil tidak cukup hanya bermodal ijazah saja. Penguasaan kecakapan pada suatu bidang tertentu dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja mutlak dimiliki oleh para lulusan perguruan tinggi. Kompetensi tersebut dibutukan karena pada abad 21 telah terjadi pergeseran dari era informasi menuju era konseptual.

Lebih lnjut disebutkan, dengan menguasai informasi saja tidak cukup karena juga diperlukan penguasaan konsep di baliknya. Dengan demikian, kemampuan untuk mensinergikan fungsi otak kiri dan fungsi otak kanan sangat diperlukan karena dengan mengotimalkan sinergi kedua fungsi otak. Sehingga akan memunculkan kemampuan kreatif yang menjadi dasar untuk menghasilkan ide-ide baru yang sangat diperlukan dalam menghadapi dunia yang sangat cepat berubah. Namun demikian keterampilan untuk sukses hidup di abad 21 cenderung bersifat duniawi. Padahal sebagai umat beragama tentu memiliki kebutuhan dan tujuan lebih dari itu. Oleh karena itu, di samping meraih kualifikasi akademik tertentu maka seharusnya tetap mengedepankan pentingnya religiusitas, moralitas, dan spiritualitas yang dapat dimanifestasikan dengan ketakwaan,

Untuk itu pengalaman berorganisasi dapat dijadikan sebagai pendidikan tambahan untuk mencapai mahasiswa plus. Karena didalam organisasi yang baik sekecil apapun, fungsi-fungsi manajemen mulai dijalankan Dalam kehidupannya, para mahasiswa aktivis kampus akan dihadapkan dengan banyak kegiatan dalam proses manajemen, dari planning, organizing, budgeting, controlling, hingga evaluating. Dari sekian proses tersebut, para mahasiswa pun pasti akan dihadapkan kepada proses membuat anggaran. Tetapi jangan dibayangkan membuat anggaran mahasiswa akan serumit dan sekonfrontatif pembuatan anggaran di ruang badan anggaran DPR RI, meski kadang tarik ulur antar teman sendiri juga terjadi. Namun disinilah proses belajar penganggaran, berdiplomasi dan mungkin negosiasi anggaran dimulai. Walau belajar, tapi tetap harus menjaga nilai-nilai moral dan kejujuran.

Demi terwujudnya sebuah program kerja yang baik dan sukses, maka anggaran dibuat sebaik dan secermat mungkin. Untuk itu harus memprediksi dan memperkirakan berapa uang yang akan dikucurkan demi berlangsungnya sebuah program kegiatan. Untuk itu perlu desain sebuah angaran. Pertama, menyesuaikan ide dengan dana, kedua adalah bagaimana untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Di sini, mulai mucul jurus yang sering kita sebut sebagai dana “Mark-Up”. Dalam ilmu manajemen Risk averse yakni sebuah sikap yang diambil untuk menghindari risiko. Disini prinsip kehati-hatian mulai diterapkan meski, langkah ini akan menjadi berbahaya jika dilakukan dengan salah.
 
Untuk itu sewajarnya dan sepantasnyalah mahasiswa melakukan budgetting sesuai dengan kebutuhan, daripada nanti banyak uang terbuang karena mark-up berlebihan. Selain itu, sudah seharusnya semangat untuk efisiensi anggaran kita budayakan sejak awal. Terkait budaya efisiensi, barang siapa yang bisa efisien, ya, cepat majunya.

Diolah dari beberapa sumber

You are here