Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Resistensi Nelayan Cantrang (Studi Tentang Resistensi Paguyuban Nelayan Kota Tegal Terhadap Aturan Pelarangan Penggunaan Cantrang)

タイトルResistensi Nelayan Cantrang (Studi Tentang Resistensi Paguyuban Nelayan Kota Tegal Terhadap Aturan Pelarangan Penggunaan Cantrang)
Publication TypeStudent Thesis
AuthorsPrambudi, Tegar Naufal
Call NumberS0S.1030
Other NumbersF1A014021
PublisherUniversitas Jenderal Soedirman
Place PublishedPurwokerto
Year of Publication2019
Date Published05/2019
要約

Aturan pelarangan penggunaan cantrang yang dikeluarkan pemerintah melalui Permen KP No 2 Tahun 2015 menimbulkan berbagai perlawanan dari nelayan cantrang di seluruh Indonesia, tidak terkecuali nelayan cantrang di Kota Tegal. Perlawanan menjadi wujud atas ketidaksepakatan nelayan terhadap aturan tersebut. Paguyuban Nelayan Kota Tegal (PNKT) sebagai paguyuban nelayan cantrang di Kota Tegal menjadi wadah nelayan untuk melakukan perlawanan untuk mencapai tujuan bersama, yaitu legalisasi cantrang kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu bagaimana proses bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan serta alasan nelayan cantrang melakukan perlawanan.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teori gerakan sosial yaitu stuktur
mobilisasi sumber daya sebagai pisau analisisnya. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan utamanya yaitu enam orang nelayan cantrang, serta informan pendukung, yaitu dua orang yang terdiri dari satu orang warga sekitar pelabuhan non nelayan, dan satu orang Syahbandar Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari Kota Tegal. Analisis data menggunakan cara Miles & Huberman, yaitu interaktif dan berlangsung terus menerus hingga data yang diperoleh dirasa sudah jenuh. Model analisis terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Validasi yang ditujukan untuk menguji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses perlawanan dilakukan melaui empat tahap
yaitu emergence (timbulnya keresahan dan kegelisahan nelayan namun masih secara individual), coalescene (keresahan mulai dirasakan secara kolektif, tahap ini juga dilakukan pengorganisasian dan perumusan strategi perlawanan olehPNKT), bureaucratization (perluasan jaringan gerakan seperti menarik dukungan dari pemerintah daerah Kota Tegal), decline (berakhirnya gerakan perlawanan nelayan cantrang dengan ditandai keberhasilan gerakan mencapai tujuan mereka yaitu diperbolehkannya cantrang kembali oleh pemerintah). Perlawanan dilakukan dengan berbagai bentuk, seperti penurunan rasa hormat, konsolidasi, dan pengaduan ke lembaga pemerintah, demonstrasi, istigasah akbar, mimbar bebas, dan pengajuan petisi. Alasan nelayan cantrang melakukan perlawanan antara lain, perbedaan
pandangan nelayan dengan pemerintah dalam melihat alat tangkap cantrang, alasan ekonomi nelayan seperti ketakutan nelayan tidak dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, hingga ketidakmampuan ekonomi pemilik kapal untuk mengganti alat tangkap. Selain itu, nelayan juga takut akan timbulnya kriminalitas sebagai efek domino dari fenomena pengangguran yang bisa terjadi. Saran atau rekomendasi dari penelitian yaitu perlu dilakukannya uji petik secara akademis serta hasilnya menjadi pertimbangan dalam mengambil kebijakan selanjutnya. Selain itu, perlu dikeluarkannya kebijakan yang mengatur bentuk fisik cantrang dibanding melarang penggunannya.

Kata kunci : Resistensi, nelayan cantrang, cantrang.

SUMMARY
The rules for banning cantrang (Indonesian seine nets) use issued by the government through Permen KP (Maritime Affairs and Fisheries Minister’s Regulation) No. 2 of 2015 has caused various resistance from cantrang fishermen throughout Indonesia, including cantrang fishermen in Tegal. Resistance is a manifestation of the disagreement of fishermen against these rules. The Tegal Fishermen Association (PNKT) as a cantrang fishing community in Tegal is a place for fishermen to fight to achieve common goals, namely getting back legalization of cantrang. This research aims to find out how the forms of resistance process are carried out and the reason the cantrang fishermen’s fight.
This research uses a qualitative method with social movement theory, namely the structure of resource mobilization as the instrumental analysis. Data collection is done through interview, observation, and documentation techniques. The main informants were six cantrang fishermen, as well as supporting informants, namely two people consists of one resident around the non- fisherman port, and one person from harbormaster of PPP (Coastal Fishing Port) Tegalsari, Tegal.
Data analysis uses Miles & Huberman method, which is interactive and continues until the data obtained is considered saturated. The analysis model consists of data collection, data reduction, data presentation and conclusion drawing. Validation aimed at testing the validity of data using data triangulation techniques.
The results showed that the resistance process was carried out through four stages, namely emergence (the emergence of anxiety and anxiety of fishermen but still individually), coalescence (anxiety began to be felt collectively, this stage also carried out organizing and formulating resistance strategies by PNKT), bureaucratization (expanding the network of movements such as attracting support from the local government of Tegal), decline (the end of the cantrang fishermen resistance movement with the marked success of the movement in achieving their goal of being allowed to return by the government). Resistance is carried out in various forms, such as a
decrease in respect, consolidation, and complaints to government institutions, demonstrations,
istighosah (mass prayer), free speeches and petition submissions. The reason of cantrang fishermen fight is, among other things, the difference views of fishermen and the government in seeing cantrang fishing gear, fishermen's economical reasons such as fear of fishermen being unable to meet family economic needs, to the economic inability of ship-owners to replace fishing gear. In addition, fishermen are also afraid of the emergence of crime as a domino effect of the phenomenon of unemployment that can occur. Suggestions or recommendations from this research are the need for academic tests to be conducted and the results taken into consideration in taking further policy. Thus, policies need to be issued that regulate the physical form rather than prohibiting its use.

Keywords: Resistence, Cantrang Fisherman, Cantrang

キーワードcantrang., nelayan cantrang, resistensi
Citation Key3597