Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Relasi Gender Dalam Ritual Ayam Anggrem Di “Kampung Buruh Migran” Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu

タイトルRelasi Gender Dalam Ritual Ayam Anggrem Di “Kampung Buruh Migran” Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu
Publication TypeStudent Thesis
AuthorsAhmad, Sihabudin
Call NumberSOS.1030
Other NumbersF1A014033
PublisherUniversitas Jenderal Soedirman
Place PublishedPurwokerto
Year of Publication2019
Date Published05/2019
要約

Relasi gender dalam institusi keluarga, tidak terlepas dari pengaruh kondisi sosial budaya masyarakat di mana keluarga tersebut bertempat tinggal. Hal tersebut seiring dengan konsep gender itu sendiri, yaitu sebagai suatu kontruksi sosial budaya yang tentunya akan mengikuti kondisi sosial budaya di mana masyarakat tersebut ada. Kondisi sosial budaya yang berbeda di Indramayu memperlihatkan adanya tradisi ritual ayam anggrem pasca melakukan tradisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu pemaknaan ritual ayam anggrem dan implikasi pasca adanya ritual ayam anggrem terhadap relasi gender pada suami istri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teori gender dan konsep Feminis Sosialis sebagai pisau analisisnya. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan utama yaitu 4 orang mantan buruh migran yang melakukan ritual ayam anggrem, serta informan pendukung yaitu 2 laki-laki yang mengetahui sejarah ritual ayam anggrem. Analisis data menggunakan cara Miles dan Huberman yaitu interaktif dan berlangsung terus menerus hingga data yang diperoleh dirasa sudah jenuh. Model analisis terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Validasi yang ditujukan untuk menguji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi data. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari tradisi ritual ayam anggrem yaitu dalam seserahan dari perempuan ke laki-laki bukti bahwa perempuan juga nanti bisa mencari nafkah untuk keluarganya. Kemudian dengan adanya tradisi tersebut masyarakat desa Tugu dan Tugu Kidul saling menghargai satu sama lain dan masih menganut solidaritas mekanik, artinya bahwa masih menganut kesadaran kolektif untuk saling gotong royong antar sesama warga yang terlihat dari makna dari tradisi tersebut. Kemudian dalam Implikasi pasca melakukan ritual ayam anggrem adalah bagaimana di kehidupan rumah tangga setelah pernikahan. Dilihat dari perempuan di desa Tugu dan Tugu Kidul yaitu dari beberapa aspek yang mengubah posisi tawar perempuan menjadi tawar menawar ketika perempuan bebas untuk bekerja diluar rumah memiliki akses atau kuasa bahwa perempuan bisa bekerja, bukan hanya suami saja. Artinya implikasi pasca ritual ayam anggrem terhadap perempuan dan laki-laki adalah relasi gender yang simetris (adil) yang tidak mendominasi satu sama lain.

Kata kunci : Relasi Gender, implikasi, Ritual Ayam Anggrem

SUMMARY
Gender relations in family institutions are inseparable from the influence of the socio-cultural conditions of the community in which the family resides from. It is in line with the concept of gender it self, namely as a socio-cultural construction which of course will follow the socio-cultural conditions in which the community exists. The difference of socio-cultural conditions in Indramayu show the ritual tradition of “ayam anggrem”after conduct this tradition. This study aims to find out the meaning of chicken anggrem ritual traditions and the implications after the “ayam anggrem”ritual on gender relations on husband and wife.
This research uses a qualitative method with gender theory and the socialist feminist concept as
The analytical instrument. Data collection is done through interview, observation, and documentation techniques. The main informants consists of 4 migrant workers former and applied “ayam anggrem”as marriage ritual, as well as supporting informants namely 2 men who knew the history of “ayam anggrem” ritual. Data analysis uses the Miles & Huberman method which is interactive and continues until the obtained data is considered sufficiently. The analysis model consists of data collection, data reduction, data presentation and draw a conclusion. Validation aimed to examine the validity of the data using data triangulation techniques. The result of the research shows that from the ritual tradition of “ayam anggrem”that is in the seserahan (handover) from woman to man is evidence that woman can later earn a living for their families. Then with this tradition Tugu and Tugu Kidul villagers respect each other and still adhere to mechanical solidarity, it means that they still adhere to the collective awareness of mutual cooperation among villagers as seen from the meaning of the tradition. Then in the implications after performing the “ayam anggrem”ritual is how in the household life after marriage. Seen from
woman in Tugu and Tugu Kidul villages, which are from several aspects that change the bargaining position of woman to bargain when woman are free to work outside the home who have access or authority that woman can work, not just husband. This means that post-ritual implications of ayam anggrem for woman and man are symmetrical (fair) gender relations that do not dominate each other.

Keywords: Gender Relation, Implications, Ayam Anggrem Ritual

キーワードimplikasi, relasi gender, Ritual Ayam Anggrem
Citation Key3596