Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

FISIP UNSOED, tambah dua dosen kualifikasi Doktor pada hari yang sama

Dalam hari yang bersamaan, tepatnya Jumat (13/7), FISIP menambah dua orang dosen berkualifikasi doktor. Adalah Dr. Bambang Tri Harsanto, yang baru saja menyelesaikan pendidikan strata tiganya di IPB dan meraih gelar doktor di bidang Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan. Mantan Pembantu Dekan I FISIP UNSOED ini berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Analisis Kinerja Lembaga Kerjasama Antar Daerah dalam Meningkatkan Skala Ekonomi Daerah : Kajian Aspek Kelembagaan” . Dalam disertasinya, pria kelahiran Grobogan 5 Desember 1961 ini mengungkapkan, bahwa lembaga kerjasama antar daerah mewujud melalui adanya keinginan untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas promosi potensi ekonomi daerah secara bersama. “Faktor lain adalah untuk melakukan sinergi pembangunan dalam pemanfaatan dan pengelolaan potensi ekonomi daerah yang terbatas dalam rangka meningkatkan skala ekonomi daerah” demikian ujarnya. Dosen pada Jurusan Ilmu Administrasi Negara FISIP UNSOED ini menambahkan, dengan analisis game theory dan analisis biaya transaksi, dia menyimpulkan bahwa kebijakan pembentukan lembaga kerjasama antar daerah BARLINGMASCAKEB merupakan strategi yang tepat untuk meningkatkan skala ekonomi daerah. “Rumusan format kelembagaan baru bagi lembaga kerjasama antar daerah BARLINGMASCAKEB agar dapat menjalankan fungsinya secara optimal adalah membentuk lembaga kerjasama antar daerah yang bersifat otonom” demikian ungkapnya lebih lanjut. Dr. Bambang Tri juga menyarankan bahwa agar kelembagaan antar daerah ini terbebas dari intervensi kepentingan Daerah, maka diperlukan komitmen yang kuat dari para Kepala Daerah.

Yang kedua adalah Dr. Sofa Marwah, dari Jurusan Ilmu Politik yang meraih gelar doktoralnya dari Universitas Indonesia setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Representasi Politik Perempuan Banyumas : Antara Kultur dan Realitas Politik (Studi di Lembaga Legislatif Empat KabupatenPeriode 2009-2014)”.

Menilik kiprah yang dilakukannya, Dr. Sofa Marwah, kelahiran Kediri, 26 April 1975 memang tampak sangat tertarik dengan kajian tentang politik khususnya berkaitan dengan perempuan.  Selain berbagai penelitian yang bertemakan pemberdayaan perempuan dan kajian tentang perempuan yang dilakukannya, Dr. Sofa Marwah juga merupakan anggota Pusat Penelitian Gender dan Anak  & Pelayanan Masyarakat LPPM UNSOEDsejak tahun 2005 hingga sekarang.   Dalam desertasi yang disusunnya Dr. Sofa Marwah mengungkapkan bahwa dibalik warna budaya patriarkhi dalam masyarakatnya Banyumas, terdapat pula ungkapan masyarakat Banyumas yang menunjukkan penghargaan terhadap kaum ibu.  “Ungkapan itu seperti “wong kuwe aja nganti disupatani neng biyunge” yang berarti orang itu jangan sampai disumpah oleh ibu.  Masyarakat Banyumas juga mengenal tradisi “ngumbah sikile biyunge” atau tradisi mencuci kaki ibu untuk kemudian diminum guna mendapat berkahnya”, demikian ungkap Sofa Marwah.

Setelah melakukan penlitian di empat Kabupaten, Sofa Marwah mengungkapkan dalam desertasinya bahwa keterwakilan politik perempuan di wilayah Banyumas adalah rendah yang ditunjukkan dengan rendahnya keterwakilan perempuan dalam partai politik, pemilu dan legislatif daerah di Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan Cilacap.  “Dengan demikian keegaliteran dalam budaya Banyumas terhadap kaum perempuan hanya bersifat smbolis dan tidak mencakup peran dan kedudukan kaum perempuan dalam politik.  Di sisi lain, dari hasil penelitian juga ditemukan bahwa partai politik belum tentu memiliki kader perempuan yang jumlahnya sesuai dengan tuntutan kebijakan afirmasi.  Padahal prinsip mayoritas dalam demokrasi liberal membutuhkan lebih banyak perempuan untuk melakukan tawar menawar di lembaga politik guna memperjuangkan kepentingan perempuan.

You are here