Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

FENOMENA CALON BUPATI “BAGONGAN”: Studi Kasus Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tahun 2015 di Kabupaten Purbalingga

TitleFENOMENA CALON BUPATI “BAGONGAN”: Studi Kasus Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tahun 2015 di Kabupaten Purbalingga
Publication TypeStudent Thesis
AuthorsHani, Tiara Shinta Yunika
Call NumberPOL.536
Other NumbersF1D011045
PublisherUniversitas Jenderal Soedirman
Place PublishedPurwokerto
Year of Publication2018
Date Published06/2018
Abstract

Dinamika yang muncul dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung di Indonesia, sebagai sebuah proses dan mekanisme politik perebutan kekuasaan secara demokratis sesungguhnya merupakan hal yang wajar dan lumrah terjadi. Namun ada suatu fenomena menarik untuk diteliti yang terjadi di Kabupaten Purbalingga dalam pilkada tahun 2015 lalu. Hal tersebut karena adanya pasangan bupati-wakil bupati yang disebut sebagai pasangan boneka atau ―Bagongan‖. Inilah yang menarik untuk diteliti lebih lanjut, apa yang melatarbelakangi munculnya fenomena tersebut dan bagaimana merekonstruksinya serta mendeskripsikannya dalam perspektif ilmu politik. Dengan judul Fenomena Calon Bupati ―Bagongan‖: Studi Kasus Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tahun 2015 di Kabupaten Purbalingga, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang munculnya calon bupati ―bagongan‖ dalam pilkada 2015 di Purbalingga. Setelah terdeskripsikan latar belakang munculnya fenomena tersebut, selanjutnya digambarkan logika kompetisi dari sisi kandidat dan partai-partai pengusung dan pendukung di Pilkada tahun 2015 Kabupaten Purbalingga. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Kemudian data dianalisis menggunakan metode analisis model interaktif Miles dan Huberman. Untuk menjamin validitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data. Dari hasil penelitian ternyata fenomena munculnya calon ―Bagongan‖ telah melahirkan sebuah kontestasi politik tersendiri yang unik dan mewarnai perhelatan pilkada di Purbalingga tahun 2015. Hal ini karena stigma ―bagongan‖ yang diberikan masyarakat kepada salah satu pasangan kandidat justru ditangkap sebagai ikon dan jargon kampanye mereka. Pasangan kandidat tersebut justru seperti membenarkan dirinya sebagai calon bagongan, mereka kemudian menamakan dirinya sebagai ―Bagong Suci‖ dengan menampilkan gambar-gambar Bagong (tokoh wayang) dalam media-media kampanye mereka (baliho, poster, spanduk, leaflet dan lainnya). Menangkap dan mengelola isu ‗Bagongan‘ ternyata kemudian terbukti menjadi strategi politik yang cerdas dan efektif, serta berhasil melakukan perlawanan sengit dengan mengelola isu yang muncul menjadi strategi kampanye yang menarik. Kontestasi politik pilkada Purbalingga juga menjadi dinamis dan unik, pasangan calon yang sedemikian kuat dengan mendominasi dukungan dan modal politik ternyata tak mudah untuk mengalahkan pasangan calon yang minim dukungan dan modal politik.

KeywordsFenomena ―Bagongan‖, Logika Kompetisi, Pilkada
Citation Key3428
You are here