Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Tiga Orang Mahasiswa FISIP Unsoed meneliti Implementasi Kebijakan Revitalisasi Pasar Tradisional

Dalam rangka Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi, Mahasiswa FISIP Unsoed mengirimkan proposal PKM yang telah diumumkan hasilnya pada bulan April 2018. Salah satu Tim dari Universitas Jenderal Soedirman yang lolos untuk didanai adalah Tim PKM Penelitian Sosial Humaniora (PKM-SH) dari FISIP Unsoed yang beranggotakan Ranjani (ketua) (Ilmu Administrasi Negara 2014), Lintang Ayu Saputri (Ilmu Administrasi Negara 2015), dan Mitha Nurhikmah (Ilmu Administrasi Negara 2016). Dibimbing oleh Dr. Alizar Isna, M.Si, tiga orang mahasiswa tersebut meneliti  Implementasi Kebijakan Revitalisasi Pasar Tradisional dengan studi kasus di Pasar BSD Serpong dan Pasar Manis Purwokerto. Penelitian ini dilakukan berdasarkan permasalahan di masyarakat yaitu banyaknya pasar tradisional yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat karena tidak mampu memenuhi harapan masyarakat seperti yang ditawarkan oleh pasar modern. Pasar tradisional yang diidentikkan dengan kondisi yang kumuh, becek, dan banyak copet perlu berbenah agar dapat bersaing dengan pasar modern. Pemerintah akhirnya membuat kebijakan revitalisasi pasar tradisional di Indonesia dengan target 5.000 pasar tradisional selama lima tahun masa pemerintahan Joko Widodo. Program revitalisasi ini mengeluarkan dana yang besar dan belum mampu memenuhi target 5.000 pasar sampai tahun 2018. Sampai tahun 2017 baru sekitar 2.900 pasar yang telah direvitalisasi. Menurut Kementerian Perdagangan, seharusnya revitalisasi Pasar Tradisional mencangkum empat aspek, yaitu revitalisasi fisik, manajemen, ekonomi, dan sosial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata implementasi kebijakan revitalisasi pasar di Pasar Manis Purwokerto belum mencangkup keempat aspek tersebut, baru sampai pada aspek fisik, sementara aspek manajemen, ekonomi, dan sosial sudah diupayakan belum mampu terwujud secara maksimal. Hal ini disebabkan karena terbatasnya anggaran dan kurangnya pemahaman pengelola pasar, mulai dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyumas, hingga pengurus UPT Pasar Manis. Dampaknya revitalisasi pasar tidak dapat mencapai tujuannya, yaitu meningkatkan kesejahteraan pedagang. Banyak pedagang di Pasar Manis yang mengalami penurunan pendapatan bahkan sampai menutup kiosnya.
Berbeda dengan proses revitalisasi Pasar di BSD Serpong, disana sudah melakukan revitalisasi fisik, manajemen, ekonomi, dan sosial. Sehingga pendapatan pedagang di Pasar BSD Serpong tinggi meskipun harga sewanya juga relatif tinggi. Pasar ini dikelola oleh swasta sehingga dapat lebih leluasa dalam mengelola pasar. Namun, bukan berarti hal ini tidak dapat diterapkan di Pasar milik pemerintah. Revitalisasi pasar tradisional akan berhasil jika mampu merubah mindset pengelola dan pedagang untuk bersama-sama melakukan revitalisasi fisik, manajemen, ekonomi, dan sosial. Kemajuan dari penelitian ketiga mahasiswa FISIP Unsoed akan dilaporkan dalam monitoring dan evaluasi (monev) eksternal pada tanggal 18-19 Juli 2018.
  
 
Maju Terus Pantang Menyerah!
 
You are here