Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

RHIZOME FISIP Unsoed Gelar Bedah Buku "Menegakkan Kedaulatan Rakyat"

Rhizome sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang kajian-kajian ilmiah, tak pernah berhenti berkarya memberikan ruang bagi mahasiswa FISIP untuk mengembangkan penalaran dan pemikiran ilmiahnya. Mengambil tempat di Aula FISIP Unsoed, Senin (09/04) UKM Rhizome mengadakan bedah buku karya Ahmad sabiq, MA., yang berjudul Menegakkan Kedaulatan Rakyat. Hadir dalam kegiatan ini Pembina UKM Rhizome Dr. Hariyadi, M.A., Andi Ali Said Akbar, S.IP.,MA, Ismianto Heru Permana SH., MH. Dan Dr. Esti Ningrum, SH, M.Hum serta para mahasiswa FISIP Unsoed dari berbagai Jurusan.

Kegiatan ini di awali dengan sambutan ketua pelaksana kegiatan, Tefiana Azahra mahasiswa Jurusan Sosiologi angkatan tahun 2016, yang menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan kegiatan ini, sebagai upaya untuk meningkatkan budaya dan iklim akademik di kalangan mahasiswa. Hal senada juga disampaikan oleh Pembina Rhizome Dr. Hariyadi, MA., yang menyatakan bahwa sebagai insan akademis, untuk membudayakan atau membiasakan iklim akademis hars dilakukan sejak awal yakni saat-saat masih dibangku sekolah atau kuliah, karena kebiasaan atau iklim akademis tidak dapat diperoleh dengan instan.

Mengawali paparannya Ahmad Sabiq S.IP.MA., menyampaikan bahwa buku ini merupakan kompilasi tulisan, buku ini diberi judul menegakan kedaulatan rakyat sebagai apresiasi media kedaulatan rakyat. “Kalau kita lihat dari sisi demokrasi ini hal yg merupakan capaian yg sudah cukup bagus, misalnya pemilu, Indonesia pemilu sangat kompleks sekitar 1,5 juta TPS’, jelasnya. Hakikat dari demokrasi adalah kedaulatan rakyat. Lebih lanjut dijelaskan bahwa praktek kedaulatan rakyat tidak bisa diwujudkan begitu saja, seseorang yang menang dalam pemilu harus memiliki sponsor, ini merupakan sebuah pengalaman emprik. Sponsor dapat berwujud yang mendukung modal politik sehingga menjadi paradox, yang kemudian menghamba pada investor. Akibatnya ada proses pengembalian modal plus keuntungan, sehingga berdampak pada banyaknya kebijakan-kebijakan yang tidak memihak kepentingan rakyat. “Inilah yg menurut saya perlu untuk dicermati, direnungkan dan mencari solusi agar kebijakan sesuai kepentingan masyarakat dan agar politik berjalan didasarkan pada kesukarelaan, dimana politik yang berbasiskan nilai-nilai panggilan jiwa untuk kehidupan bersama yang menjadi lebih baik,” tegasnya.

Sebagai pembedah pertama Andi Ali Said Akbar, S.IP.,MA mengungkapkan bahwa partai yang memiliki perilaku partai adalah benda yang sangat modern tapi mengelolanya sangat konservatif, jika dilihat kiat-kiat yang diberikan parpol mampu menguatkan di pemerintah dan masyarakat karena masih percaya pada patronase, uang, dan pelayanan rohani. Melihat partai sebagai makhluk yang hidup di tengah-tengah masyarakat lebih dikenal dengan politik incidental banyak partai yang tidak tahu visi misi dan sejarah partainya sendiri. “Tawaran modernisasi sudah disediakan oleh partainya, organisasi dan pemuda-pemuda sebagai kepanjangtanganan partai sangat bisa menggerakannya,” jelasnya. Dr. Esti Ningrum, SH, M.Hum, menyampaikan bahwa dalam buku ini terdapat dua hal yang beliau soroti, yang pertama adalah regenerasi yang mentok di dalam partai politik, yaitu dimana didalam partai masih banyak terdapat ‘orang’  dan sebenarnya tidak ada mahar dalam parpol, akan tetapi dalam regulasi atau cost politik memang cukup tinggi untuk memenangkan suara. ‘Kondisi ini berbeda dengan di Malaysia, dimana negara yang mengkampanyekan semua inkamben sehingga merek tenang-tenang saja,” paparnya.

Tokoh Banyumas Ismianto Heru Permana SH., MH., mengungkapkan tidaklah mudah mengelola pemerintahan. “Kalau kita bicara demokrasi di Indonesia, bisa dikatakan bahwa demokrasi secara substansial belum benar-benar dilakukan, karena kedaulatan rakyat belum benar-benar berdiri tegak. di Indonesia, hal ini dibuktikan dengan belum adanya pemenuhan hak-hak rakyat yaitu ditandai dengan ditangkapnya 38 wakil rakyat,” jelasnya. Oleh karena itu KPU mengeluarkan peraturan bahwa parpol jangan mengusung caleg yang pernah di hukum untuk mengantisipasi amanah dari rakyat. “Kita sebagai kaum intelek ditantang untuk benar-benar menegakkan keadilan, karena semua perubahan dan pergerakan berasal dari kaum muda seperti reformasi dan sumpah pemuda”, tegasnya

RHIZOME FISIP , Maju Terus Pantang Menyerah…!!!
 

You are here