Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Potret Kesenian Buncis(Pemaknaan Kesenian Buncis Oleh Pelaku Seni Buncis Di Desa Tanggeran Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas)

JudulPotret Kesenian Buncis(Pemaknaan Kesenian Buncis Oleh Pelaku Seni Buncis Di Desa Tanggeran Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas)
Publication TypeStudent Thesis
AuthorsFatoni, Akhmad
Call NumberSOS.778
Other NumbersF1A011053
PublisherUniversitas Jenderal Soedirman
Place PublishedPurwokerto
Year of Publication2016
Date Published03/2016
Abstract

Masyarakat Banyumas memiliki keanekaragaman budaya tradisional.
Terhitung ada 36 jenis budaya tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Banyumas
dari sejak zaman dahulu hingga sekarang. Budaya tradisional yang berkembang di
masyarakat Banyumas berbeda-beda, hal itu dapat dilihat beberapa aspek
kebudayaan antara lain pemahaman tentang leluhur, bahasa, folkor, budaya lisan,
ritual dan kesenian. Kesenian buncis merupakan salah satu bentuk kebudayaan
tradisonal Banyumas yang bernafaskan pertanian. Kesenian buncis dahulu
dipentaskan sebagai bentuk permintaan, permohonan atau biasa disebut penyuwunan
kepada sang pencipta untuk kegiatan pertanian. Namun kini kesenian buncis sudah
beralih fungsi menjadi kesenian yang dipentaskan sebagai sarana hiburan untuk
masyarakat.
Penelitian dengan judul “POTRET KESENIAN BUNCIS (Pemaknaan
Kesenian Buncis Oleh Pelaku Seni Buncis Di Desa Tanggeran Kecamatan Somagede
Kabupaten Banyumas)” ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan para pelaku
kesenian buncis terhadap kesenian buncis di Desa Tanggeran Kecamatan Somagede
Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian
kualitatif yang menghasilkan data deskriptif dengan pendekatan sosiologi budaya.
Sasaran dalam penelitian ini adalah para pelaku kesenian buncis di Desa Tanggeran.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu dengan in-depth interview, observasi, serta dokumentasi. Ketiganya dianalisis
dengan menggunakan model analisis interaktif, yang dikaji pula dengan
menggunakan validitas data yaitu triangulasi sumber.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa pada dasarnya para pelaku
memaknai kesenian buncis sebagai budaya peninggalan leluhur yang wajib dijaga
dan dilestarikan. Kesenian buncis juga diartikan sebagai tari ndayakan karena
melihat dari segi sejarah yang terjadi di masa lalu. Disebut tari ndayakan karena
kostum dan tata rias para penari seni buncis mirip dengan orang-orang suku Dayak.
Kesenian buncis dipentaskan sebagai sarana hiburan pada acara-acara tertentu, antara
lain: hajatan pernikahan, khitanan, Festival Bambu Serayu, HUT RI, Hari Jadi
Kabupaten Banyumas, Ekstravaganza Banyumas dan sebagainya. Kesenian buncis
tergolong sebagai kesenian yang hampir punah, oleh karena itu perlu tindakan lebih
agar kesenian tersebut tidak punah. Tindakan yang dilakukan oleh para pelaku
kesenian buncis di Desa Tangeran untuk menjaga keberadaan kesenian tersebut agar
tetap ada adalah mengadakan latihan rutin bagi Pelaku kesenian buncis dan mengajak
masyarakat, khususnya generasi pemuda untuk bersama-sama dalam melestarikan
kesenian buncis.

KeywordsDesa Tanggeran, Kesenian Buncis, Pelaku Seni Buncis, pemaknaan
Citation Key2626
You are here