Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Menggagas Pencitraan Berbasis Kearifan Lokal

Bertempat di aula Fisip UNSOED, hari ini Rabu, 26 September 2012, digelar Seminar Nasional "Menggagas Pencitraan Berbasis Kearifan Lokal". Pencitraan adalah upaya membangun persepsi agar eksis didalam pikiran penerima. Empat pilar utama untuk membangun sebuah citra adalah identitas, persepsi, interpretasi dan citra. Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip UNSOED ini, menghadirkan Keynote Speaker Gubernur Jawa Tengah dengan pembicara Dra. Henny S. Widyaningsih, M.Si, Prof. Dr. Damardjati Supadjar dan beberapa pembicara dari Fisip UNSOED, dimulai pada pukul 08.00 dan dibuka oleh Rektor UNSOED, Prof. Edy Yuwono, Ph.D. Seminar dihadiri oleh civitas akademika Fisip UNSOED dan tamu undangan dari berbagai perguruan tinggi lain. Sebagai kelanjutan rangkaian seminar, besoknya dilaksanakan one day tour di wilayah Kabupaten Banyumas.

Dalam sambutannya Rektor UNSOED Prof. Edy Yuwono, Ph.D, menyampaikan untuk membangun citra yang baik harus didasari sesuatu yg baik, sebagai sebuah bangsa kita puya identitas atau karakter yang membedakan dengan bangsa-bangsa lain. Hal ini bisa menjadi modal dasar membangun citra Negara Indonesia. Gubernur Jawa Tengah, dengan semboyan “Bali Ndesa Mbangun Desa”, pun merupakan upaya pencitraan juga untuk membangun semangat, yang didasari bahwa sebagian besar wilayah Jawa Tengah ada di pedesaan sehingga target sasaran pembangunan Jawa Tengah pun diarahkan ke pedesaan. Membangun citra tanpa berbekal modal dasar potensi diri, ibarat membangun citra diri menjadi orang lain, bukan menjadi diri sendiri.

Guru Besar Filsafat Universitas Gadjah Mada Prof. Damardjati Supadjar, dalam makalahnya menyampaikan, dalam falsafah budaya jawa, ada istilah Sri Gunung, Sri Tanjung dan Sri Taman, yang merupakan hubungan yang saling mengkait untuk membangun citra diri, yangnampak pada berbagai takrif tentang jati diri. Falsafah budaya mendorong manusia Indonesia untuk mencapai kesempurnaan atas dirinya dalam pencitraan.

Keberagaman suku-suku bangsa, adat istiadat, budaya dan agama di Indonesia merupakan modal dasar, bekal sekaligus tujuan untuk membangun citra diri bangsa, karena keragaman tersebut mempunyai kekhasan bagi perkembangan bangsa dan Negara Indonesia.

Namun demikian, untuk membangun citra sangat tergantung pada komunikasi yang dilakukan,, karena pembangunan citra bukanlah semata usaha supaya terlihat baik dan indah tetapi juga merefleksikan sebuah identitas. Dan pencitraan juga digunakan sebagai cara untuk mengubah sikap, perilaku, identitas atau citra ke arah yang positif.

Selamat…kepada Ilmu Komunikasi Fisip UNSOED..Maju Terus Pantang Mundur..

You are here