Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Launching dan Bedah Buku Kompilasi UKM Rhizome FISIP UNSOED ‘Esai Pendidikan’


Pendidikan Indonesia sedang tidak baik-baik saja! Di penghujung bulan pendidikan nasional yang jatuh pada bulan Mei ini, UKM Riset dan Kajian Ilmiah “Rhizome” FISIP Unsoed mengadakan acara launching dan diskusi bedah buku “Kumpulan Esai Pendidikan: Permasalahan Pendidikan Dari Pusat Hingga Daerah”, tepatnya pada 30 Mei 2016 di Aula FISIP Unsoed. Buku tersebut merupakan karya dari anggota Rhizome, alumni dan akademisi FISIP Unsoed serta beberapa pegiat pendidikan di Banyumas. Buku tersebut lahir dari kegelisahan kawan-kawan Rhizome akan pendidikan saat ini, terutama persoala komersialisasi pendidikan yang makin kentara terlihat di Indonesia yang menyebabkan persoal lainnya baik pada pendidikan pusat maupun daerah.

Tampil dengan cover buku yang simpel tetapi syarat makna, UKM Rhizome mengartikan bahwa cover buku bagian depan berwarna hitam mengartikan bahwa pendidikan saat ini masih kelam dengan berbaga permasalahan pendidikan, misalnya tingginya angka putus sekolah di Purwokerto dan banyaknya anak perempuan di Purbalingga yang memilih untuk bekerja daripada sekolah, kedua contoh tersebut merupakan permasalahan pendidikan di daerah yang dijelaskan dalam buku tersebut. Sedangkan cover buku bagian belakang berwarna putih melambangkan harapan penulis semoga pendidikan menjadi lebih baik dengan adanya alternatif atau solusi dari permasalahan pendidikan di atas, dan garis merah yang melambangkan perlawanan.

Diskusi yang dibuka langsung oleh Dekan FISIP Unsoed, diawali dengan penyerahan buku simbolik ke beberapa pihak di antaranya Perpustakaan FISIP Unsoed, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Brilliant Institut, Bhinneka Ceria dan SD Negeri 1 Tanjung. Penyerahan buku tersebut selain bertujuan sebagai arsip juga ditujukan kepada pihak-pihak yang menjadi narasumber dari beberapa tulisan dalam buku tersebut.

Diskusi yang menghadirkan dua pembedah buku yakni Sulyana Dadan, MA selaku akademisi dan FA Agus Wahyudi seorang pegiat FIGURMAS (Forum Interaksi Guru Banyumas). Kedua pembedah buku tersebut mengapresiasi terbitnya buku karya UKM Rhizome ini. Sulyana Dadan menyampaikan bahwa sasaran utama buku tersebut adalah mahasiswa, karena mahasiswa merupakan garda terdepan dalam  menciptakan Indonesia yang lebih baik. Dengan membaca buku tersebut, maka mahasiswa mengetahui permasalahan pendidikan yang ada kemudian melakukan tindakan untuk memperbaikinya. Sedangkan FA Agus Wahyudi lebih terkesan karena dengan terbitnya buku tersebut menunjukkan bahwa masih ada mahasiswa yang peduli dengan keadaan pendidikan saat ini.

Selain kedua pembedah buku, dalam diskus tersebut menghadirkan pula dua pembicara yang merupakan perwakilan dari penulis buku yakni Adinda Fiqih Damayanti (mahasiswi Sosiologi 2012) dan Laelatuh Janah, S.Sos (Alumni Rhizome dan FISIP Unsoed). Dalam buku “Kumpulan Esai Pendidikan: Permsalahan Pendidikan Dari Pusat Hingga Daerah” dibagi menjadi tiga bagian, bagian pertama bericara mengenai permasalahan pendidikan secara mum seperti komersialisasi pendidikan, bagian kedua membahas mengenai permasalahan pendidikan di daerah contohnya di Purwokerto dan Purbalingga, sedangkan bagian ketiga dari buku ini membahas mengenai alternatif atau solusi dari permasalahan pendidikan tersebut dengan adanya Brilliant Institut di Dawuhan Kulon.

Diskusi yang dipandu oleh Nilawati, mahasiswi jurusan Ilmu Administrasi Negara 2014, berjalan dengan lancar.  Pada sesi tanya jawab, terdapat beberapa penanya yang bertanya mengenai komersialisasi pendidikan yang terjadi di Indonesia ada setiap tingkatan atau pendidikan paud hingga pendidikan tinggi. Pendidikan dengan kualitas baik seolah diukur dari majunya sarana dan prasarana sekolah dengan biaya pendidikan yang mahal. Sulyana Dadan, MA menyampaikan bahwa pendidikan di lingkup elit (pengambil kebijakan)  dipandang sebagai proyek, tetapi esensi dari memanusiakan manusia tidak pernah sampai. Dengan adanya komersialisasi pendidikan di Indonesia rupanya menggeser makna dari pendidikan.

Seperti yang disampaikan pegiat FIGURMAS, FA Agus Wahyudi, melihat pendidikan sebagai sarana merajut harapan. Kemiskinan yang menjadi alasan pendidikan sebagai sarana mobilitas sosial. Akan tetapi realitas saat ini berkata lain, berkembangnya komersialisasi pendidikan melahirkan tantangan ditiap tingkat pendidikan, sedangkan pemerintah selaku pengambil kebijakan rupanya tidak sangup menjawab tantangan-tantangan tersebut. Dengan mewujudkan harapan pendidikan menjadi lebih baik bukan hanya dilakukan oleh pemerintah saja, melainkan semua elemen masyarakat turut serta membangun pendidikan Indonesia yang lebih baik. Seperti kesimpulan yang disampaikan oleh moderator diskusi bedah buku, Nilawati, bahwa kebijakan pendidikan   di Indonesia perlu direkonstruksi guna terciptanya pendidikan yang dicita-citakan seluruh rakyat Indonesia.  (NN)

#SalamAkar!
Rhizome FISIP Unsoed, Melawan Dengan Data !
 

You are here