Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Konflik Perebutan Tanah Antara Masyarakat Kecamatan Teluk Jambe Barat Kabupaten Karawang Jawa Barat Dengan Pt. Sumber Air Mas Pratama PadaTahun 2014

JudulKonflik Perebutan Tanah Antara Masyarakat Kecamatan Teluk Jambe Barat Kabupaten Karawang Jawa Barat Dengan Pt. Sumber Air Mas Pratama PadaTahun 2014
Publication TypeStudent Thesis
AuthorsHutasoit, Marnit
Call NumberPOL.524
Other NumbersF1D012054
PublisherUniversitas Jenderal Soedirman
Place PublishedPurwokerto
Year of PublicationSubmitted
Date Published03/2018
Abstract

Penelitan ini bertujuan untuk mengambarkan adalah konflik agrarian perebutan tanah antara petani di tiga desa, yaitu Desa Margamulya, Desa Wanasari dan Desa Wanakerta, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat dengan Perusahan Sumber Air Mas. Konflik lahan di Kecamatan Telukjambe memilki riwayat yang dapat dirunut setidaknya hinga
masa kolonial Belanda sampai masa reformasi. Hasil dari penelitan ini menunjukan bahwa kronologi di lahan tiga desa yaitu Desa Wanasari, Wanakerta, dan Margamulya muncul sat PT Dasa Bagja terlibat dalam menyewa lahan milk masyarakat. Sebelumnya lahan tersebut adalah partikelir yang telah diredistribusi oleh pemerintah kepada masyarakat. Tiga tahun berlangsung kontrak ternyata terdapat pengalihan surat kepemilkan lahan oleh warga yang dibawa PT. Dasa Bagja kepada perusahan lain. Hinga akhirnya jatuh kepada PT. Sumber Air Mas Pratama. Selama proses itu masyarakat masih tetap memanfatkan lahanya. Akan tetapi, pada tahun 200 PT. Sumber Air Mas Pratama mulai mengajukan ke pengadilan untuk melakukan pembebasan lahan. Runtutan kisah tersebut berpuncak pada Juni 2014 lalu, Ratusan aparat kepolisian dan ribuan preman diturunkan untuk melakukan eksekusi lahan. Rakyat melawan, memblokade jalan masuk alat-alat berat, namun tindakan represif dilakukan aparat dan preman untuk mengusir warga. Alhasil, 9 petani dan 4 buruh yang melakukan aksi menolak eksekusi ditangkap, 10 buruh luka-luka dan 1 petani tertembak serta puluhan lainya mendapat luka ringan karena tembakan gas air mata dan peluru karet. . Bentuk Konflik agraria struktural yang dimaksud disi ini merujuk pada pertentangan klaim yang berkepanjangan mengenai suatu bidang tanah, sumber daya alam dan wilayah kepunyan rakyat. Masyarakat yang sedang berkonflik sebenarnya sudah mempunya keinginan untuk menyelesaikan permasalahan tanah ini dan sudah sepakat dengan soal ganti rugi namun disisi lain ada sebagian masyarakat yang masih menolak soal ganti rugi dengan berangapan bahwa ada yang ingin membeli tanah tersebut dengan harga yang lebih tingi. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitan ini adalah bahwa konflik yang terjadi di Desa Wanasari, Desa Wanakerta dan Desa Margamulya merupakan konflik agararia structural merupakan konflik antara kelompok masyarakat sipil melawan kaum pemodal atau instrument negara. Pihak-pihak yang berkonflik bukan antara rakyat dan rakyat, tetapi rakyat melawan pengusaha atau rakyat melawan pemerintah

KeywordsKonflik Agraria, Konflik Politik, Konflik Struktural, Petani
Citation Key3368
You are here