Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Kehidupan Perempuan Sebagai Pemulung Dalam Keluarga Pasca Penutupan Tpa Gunung Tugel Kabupaten Banyumas

JudulKehidupan Perempuan Sebagai Pemulung Dalam Keluarga Pasca Penutupan Tpa Gunung Tugel Kabupaten Banyumas
Publication TypeStudent Thesis
AuthorsSupriasih, Menik
Call NumberSOS.885
Other NumbersF1A013045
PublisherUniversitas Jenderal Soedirman
Place PublishedPurwokerto
Year of Publication2017
Date Published09/2017
Abstract

Desa Kedungrandu merupakan salah satu desa di Kecamatan Patikraja yang merupakan lokasi keberadaan TPA Gunung Tugel. Keberadaan TPA ini dimanfaatkan warga sekitar TPA Gunung Tugel khususnya warga Desa Kedungrandu untuk memulung di TPA tersebut. Volume sampah yang banyak dari aktivitas manusia membuat TPA ini sudah melebihi daya tampung. Pemerintah Kabupaten Banyumas menutup TPA Gunung Tugel dan mengalihkan aktivitas persampahan ke TPA Kaliori pada Maret 2016. Perpindahan aktivitas sampah ini karena TPA sudah melebihi daya tampung. Pengalihan TPA Gunung Tugel ke TPA Kaliori juga diikuti oleh karyawan dan juga oleh sebagian pemulung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kehidupan perempuan yang berprofesi sebagai pemulung pasca penutupan TPA Gunung Tugel.
Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Sasaran utama dalam penelitian ini adalah perempuan yang menjadi pemulung saat TPA Gunung Tugel masih beroperasi. Teknik penentuan sasaran penelitian adalah teknik purposive sampling, yaitu perempuan, baik yang masih menjadi pemulung maupun yang beralih profesi yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Sasaran pendukung dalam penelitian ini adalah pemulung laki-laki, suami pemulung, dan masyarakat sekitar TPA Gunung Tugel. Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara dengan Kepala DCKKTR Kabupaten Banyumas, sopir angkutan sampah, dan pengepul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penutupan TPA Gunung Tugel memberikan dampak khususnya bagi pekerjaan para pemulung khususnya perempuan yang memulung di TPA tersebut. Ada dua alternatif pilihan pekerjaan pasca penutupan TPA Gunung Tugel yang dilakukan oleh pemulung. Pertama, pemulung tetap menjadi pemulung dengan memulung di TPA Kaliori. Pemulung membagi peran untuk bekerja dan juga menjalankan peran di dalam keluarga. Pengepul menyediakan mobil angkutan
untuk mengantar dan menjemput pemulung dari Kedungrandu ke Kaliori. Perempuan yang memulung di TPA Kaliori membagi waktu seefektif mungkin dengan membagi pekerjaan rumah dan bekerja sebagai pemulung. Kedua, pemulung beralih profesi ke pekerjaan lain yaitu buruh tani. Pekerjaan ini dilakukan untuk menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Alasan untuk tidak ikut memulung ke TPA Kaliori adalah jarak yang jauh dan juga ingin melakukan pekerjaan lain. Perempuan yang bekerja akan memiliki jam kerja yang lebih panjang karena tidak hanya bekerja di luar rumah, namun juga di dalam rumah serta harus dapat mengalokasikan waktu dan membagi peran. Saran untuk pemerintah yaitu untuk mengadakan program pemberdayaan masyarakat. Bagi masyarakat harus dapat hidup lebih mandiri, serta bagi pemulung untuk dapat memiliki suatu usaha agar dapat menambah penghasilan

KeywordsTPA Gunung Tugel, dan alokasi waktu, perempuan pemulung
Citation Key3181
You are here