Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Interaksi Sosial Antara Nak Autis denga Orang Tua dan Pengajar di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Elian Center Purwokerto

JudulInteraksi Sosial Antara Nak Autis denga Orang Tua dan Pengajar di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Elian Center Purwokerto
Publication TypeStudent Thesis
AuthorsAnggraeni, Mustika
Call NumberSOS.660
Other NumbersF1A008051
PublisherUniversitas Jenderal Soedirman
Place PublishedPurwokerto
Year of Publication2015
Date Published01/2015
Abstract

Anak autis mengalami gangguan pada perilaku, interaksi sosial, dan
komunikasi dan bahasa. Gangguan yang dialami oleh anak autis akan menyulitkan
mereka dalam berinteraksi dan menjalin komunikasi dengan orang tua dan
pengajar di LKP Elian Center Purwokerto. Tujuan penelitian untuk mengetahui
bagaimana anak autis dari LKP Elian Center Purwokerto dalam berinteraksi
dengan orang tua dan pengajar, mengetahui kendala atau hambatan yang dihadapi
oleh orang tua dan pengajar LKP Elian Center Purwokerto dalam berinteraksi
dengan anak autis, dan untuk mengetahui upaya orang tua dan pengajar LKP
Elian Center Purwokerto dalam mengatasi keterbatasan anak autis.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Lokasi
penelitian di LKP Elian Center Purwokerto. Sasaran utamanya adalah anak autis,
orang tua anak autis dan pengajar di LKP Elian Center Purwokerto serta sasaran
pendukungnya adalah pengelola LKP Elian Center Purwokerto. Teknik penentuan
informan yang digunakan adalah purposive sampling. Metode pengumpulan data
dilakukan dengan cara wawancara mendalam (indepth interview), observasi, dan
dokumentasi. Sumber data primer diperoleh dari hasil wawancara dan observasi,
dan sumber data sekunder diperoleh dari studi pustaka atau dokumentasi yang
berhubungan dengan penelititan ini. Metode analisis yang digunakan adalah
metode Analisis Interaktif, yang komponennya terdiri atas pengumpulan data,
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan / verifikasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak autis mampu menjalin
interaksi sosial melalui komunikasi verbal dan nonverbal, walaupun apa yang
disampaikan oleh anak penyandang autis sulit dipahami oleh orang lain. Anak
penyandang autis mengalami gangguan pada komunikasi, perilaku, dan emosi.
Gangguan komunikasi ditunjukkan dengan kesulitan anak autis dalam
membangun komunikasi secara verbal, mereka lebih cenderung menggunakan
komunikasi nonverbal. Beberapa anak autis ada yang mampu berkomunikasi
secara verbal namun mereka kesulitan menjalin komunikasi secara dua arah
(timbal balik). Gangguan perilaku pada anak penyandang autis ditunjukkan
dengan perilakunya yang hiperaktif, hipoaktif, perilaku tidak terarah, suka berlarilarian,
berputar-putar, dan mereka sering menyakiti diri sendiri (self injury).
Gangguan emosi pada anak autis adalah emosinya yang tidak stabil, mereka dapat
tiba-tiba marah, menangis, tertawa tanpa alasan yang jelas. Keterbatasan yang
dialami oleh anak penyandang autis menyebabkan orang-orang disekitarnya
kesulitan dalam berinteraksi dengan mereka. Kendala yang dirasakan oleh orang
tua dan pengajar ketika berinteraksi dengan anak autis adalah seringkali terjadi
miscommunication(salah paham). Miscommunication terjadi ketika orang tua dan
pengajar tidak memahami keinginan anak, dan anak tidak mengerti maksud yang
disampaikan oleh orang tua ataupun pengajar. Upaya yang dilakukan oleh orang
tua dalam mengatasi keterbatasaan anaknya yang autis adalah dengan
memberikan kasih sayang, perhatian, dan mengajarkan kemandirian. Orang tua
juga mengkonsultasikan kondisi anaknya kepada dokter, melakukan upaya terapi
di Rumah Sakit, di LKP Elian Center, dan dirumah. Orang tua memasukkan
anaknya ke LKP Elian Center dengan tujuan untuk memperoleh bimbingan/ terapi
yang ditangani oleh pengajar yang berkompeten dibidang tersebut. LKP Elian
Center memberikan bimbingan/ terapi dengan mengkombinasikan antara metode
Lovaas atau ABA (Applied Behaviour Analysis), metode perilaku, dan terapi
bermain (play terapy). Kombinasi dari ketiga metode tersebut disesuaikan dengan
kondisi dan kemampuan anak, sehingga program belajar masing-masing anak
berbeda. Bimbingan/ terapi tersebut diharapkan dapat membantu anak
penyandang autis dalam meningkatkan kemampuannya terutama dalam bidang
komunikasi dan interaksi sosial.

Keywords-
Citation Key1978
You are here