Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

HUBUNGAN INTERAKTIF ORANG TUA TUNA RUNGU DENGAN ANAK NORMAL (Studi Tentang Interaksi Sosial Antara Orang Tua Tuna Rungu Dengan Anak Berpendengaran Dan Berbicara Normal Di Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap)

JudulHUBUNGAN INTERAKTIF ORANG TUA TUNA RUNGU DENGAN ANAK NORMAL (Studi Tentang Interaksi Sosial Antara Orang Tua Tuna Rungu Dengan Anak Berpendengaran Dan Berbicara Normal Di Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap)
Publication TypeStudent Thesis
AuthorsYuliansyah, Muhammad
Call NumberSOS.633
Other NumbersF1A007016
PublisherUniversitas Jenderal Soedirman
Place PublishedPurwokerto
Year of Publication2014
Date Published06/2014
Abstract

Keluarga merupakan sebuah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari ayah (seorang laki-laki), ibu (seorang perempuan), serta anak (laki-laki maupun perempuan). Masing-masing anggota keluarga memiliki tugas dan peran yang berbeda-beda. Komunikasi maupun interaksi antara satu anggota dengan anggota yang lain tentu ada dalam keluarga. Interaksi juga membutuhkan hubungan timbal balik antara individu satu dengan individu lainnya. Interaksi tidak akan berjalan lancar jika salah satu pihak kurang optimal dalam melakukan interaksi maupun komunikasi, seperti yang dialami oleh keluarga dengan keadaan orang tua penyandang tuna rungu yang mempunyai anak berpendengaran normal, seperti yang terjadi di Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik keluarga tuna rungu, menjelaskan komunikasi non verbal antara orang tua tuna rungu dengan anak berpendengaran dan berbicara normal, menjelaskan kendala yang dihadapi orang tua tuna rungu dalam proses interaksi sosial terhadap anak berpendengaran dan berbicara normal, dan upaya yang dilakukan keluarga dalam menghadapi kendala yang dialami orang tua tuna rungu dalam proses interaksi sosial terhadap anak berpendengaran dan berbicara normal, dan mengetahui adakah pengaruh keadaan orang tua tuna rungu terhadap perilaku anak, serta mengetahui adakah peran orang lain dalam pengasuhan anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Sasaran utama dalam penelitian ini adalah pasangan orang tua atau salah satu dari orang tua (ayah atau ibu) penyandang tuna rungu yang memiliki anak berpendengaran dan berbicara normal dengan usia dibawah 5 tahun, dan orang tua normal yang mempunyai anak penyandang tuna rungu. Keluarga serta tetangga dekat masuk dalam informan pendukung. Adapun teknik menentukan informan yaitu purposive sampling dengan jumlah informan sebanyak 8 orang. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan model Analisis Interaktif sebagai metode analisis data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik keluarga tuna rungu masuk dalam tipe extended family atau keluarga luas. Karakteristik umur dari keluarga tuna rungu bersifat tidak pasti. Pendidikan formal yang ditempuh oleh keluarga tuna rungu adalah SDLB. Sebagian besar keluarga tuna rungu bekerja di bidang informal / wiraswasta. Keluarga tuna rungu menggunakan komunikasi nonverbal / bahasa isyarat untuk dapat berinteraksi antara orang tua dengan anak maupun dengan orang lain yaitu dengan menggunakan gerakan tangan, gerakan bibir, dan ekspresi wajah. Keluarga tuna rungu mengalami kendala dalam proses interaksi sosial dengan anak yaitu sulitnya mengembangkan kemampuan bicara anak, sering terjadi miss communication antara orang tua dengan anak, sulitnya mengajarkan anak untuk dapat bergaul dengan lingkungan sekitar. Upaya yang dilakukan keluarga tuna rungu untuk menghadapi kendala dalam proses interaksi sosial dengan anak adalah orang tua tuna rungu meminta bantuan orang lain untuk mengembangkan kemampuan bicara anak, orang tua tuna rungu harus lebih memiliki waktu dan lebih sering melakukan interaksi dengan anak, orang tua harus lebih berani membawa anak untuk dapat lebih mengenal lingkungan masyarakat. Keberadaan orang tua penyandang tuna rungu dalam sebuah keluarga ternyata membentuk perilaku anak menjadi lebih pendiam dan pemalu. Kekurangan yang dimiliki orang penyandang tuna rungu dalam sebuah keluarga menjadikan keluarga tuna rungu tidak mendapatkan akses yang luas di dalam masyarakat, oleh karena itu peran orang lain sangat dibutuhkan dalam sebuah keluarga tuna rungu. Peran tersebut adalah peran dari keluarga dan tetangga dekat keluarga tuna rungu. Tetangga dekat berperan penting dalam perkembangan anak yaitu mengembangkan kemampuan bicara anak, memberikan informasi yang lebih banyak bagi anak, mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma kepada anak. xiii

Implikasi yang dapat diambil adalah nilai-nilai sosial berupa kebersamaan keluarga luas lebih ditingkatkan, harus diadakan perkumpulan tuna rungu dengan campur tangan dan kepengurusan orang normal dengan tujuan memberikan lebih banyak akses informasi bagi penyandang tuna rungu, serta pemerintah agar lebih memperhatikan dan menyediakan pekerjaan formal bagi orang penyandang tuna rungu.

KeywordsInteraksi Sosial, Keluarga, Tuna Rungu
Citation Key1691
You are here