Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Dosen FISIP UNSOED Berbagi dan Belajar Bersama Tanoker Ledokombo

Jember medio September 2015, Dosen Jurusan Sosiologi Fisip Unsoed Dr. Tyas Reno Wulan dkk menerima undangan dari ‘Tanoker’ LSM pemerhati anak, untuk menjadi fasilitator dalam  Workshop Pengasuhan Anak oleh Komunitas. Ibu Tyas sebagai Kepala Pusat Penelitian Gender, Anak dan Pelayanan Masyarakat (PPGAPM Unsoed), bersama Sri Wijayanti, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional, FISIP/ Sekretaris PPGAPM Unsoed, Eri Wahyuningsih, S.Ked, M.Kes serta Narsidah, pegiat SERUNI (LSM pemerhati buruh migran) berbagi pengalaman mengurai permasalahan seputar buruh migran. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama Tanoker dengan Australian Aid, Migrant Care.

Tanoker dalam bahasa Madura berarti Kepompong, merupakan komunitas belajar masyarakat  di Simpang Tiga Desa Ledokombo, Kec. Ledokombo, Jember, Jawa Timur. Kegiatan komunitas terutama  berfokus pada pemberdayaan anak (usia SD, SMP) melalui kegiatan setelah mereka belajar di sekolah melalui pendekatan budaya. Aktifitas Tanoker ini beririsan dengan perhatian Ibu Tyas dkk, karena mayoritas anak-anak Tanoker merupakan putra-putri dari para buruh migran.

Tanoker Ledokombo menjadi laboratorium belajar tentang  kebangkitan anak-anak desa terutama anak para buruh migrant. Sejumlah lembaga pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga internasional, juga mengadakan kegiatan di Tanoker Ledokombo. Pilot project yang mereka adakan terutama adalah program desa peduli buruh migran dan keluarganya. Kegiatan ini juga bagian program MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan).

Menurut Ibu Tyas, Workshop Pengasuhan Anak oleh Komunitas diikuti oleh perangkat desa, tokoh masyarakat di Kecamatan Ledokombo, kader buruh migran, kader pendampingan dan aktifis Tanoker. Titik tekanan materi workshop adalah pengasuhan anak bukan hanya menjadi peran dan tanggung jawab orangtua biologisnya, namun keterlibatan keluarga dalam arti luas. Intinya adalah menanamkan karakter yang baik untuk anak, diperlukan adanya kerja sama dari berbagai pihak khususnya di Kecamatan Ledokombo, seperti keluarga, lembaga pendidikan baik formal maupun informal, pemerintah, organisasi masyarakat, serta seluruh masyarakat.

Kegiatan ini merupakan upaya memperkuat kesadaran, pengetahuan dan keterampilan peserta atas keterlibatan melakukan pengasuhan anak berbasis komunitas, terutama terhadap anak-anak buruh rantau di dalam maupun luar negeri. Tidak kalah penting, tutur Ibu Tyas pemanfaatan remiten sosial buruh migran agar berdayaguna bagi buruh migran sendiri, keluarga dan lingkungannya.

FISIP UNSOED, Maju Terus Pantang Menyerah !

You are here