Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Dokter Bukan Monster (Analisis Semiotika Pelayanan Kesehatan dalam Film Patch Adams)

JudulDokter Bukan Monster (Analisis Semiotika Pelayanan Kesehatan dalam Film Patch Adams)
Publication TypeStudent Thesis
AuthorsPAMIKATSIH, NIKEN RARA
Call NumberSOS.646
Other NumbersF1A010076
PublisherUniversitas Jenderal Soedirman
Place PublishedPurwokerto
Year of Publication2014
Date Published09/2014
Abstract

Masyarakat menganggap bahwa dokter ibarat monster. Sosok "monster" yang ditakuti, berkuasa, berkedudukan lebih tinggi dari pasien, dan berorientasi terhadap keuntungan. Namun, dibalik pandangan tersebut terdapat dokter yang sangat menjunjung nilai kemanusiaan. Patch Adams hadir mengubah pandangan tersebut dengan pelayanan kesehatan melalui humor, atribut, empati, menekankan hubungan emosional,dan membangun klinik gratis.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika strukturalis Charles Pierce. Bahan penelitian ini adalah film berjudul Patch Adams yang diproduksi tahun 1998, diangkat dari buku berjudul Gesundheit: Good Health is a Laughing Matter, berdasarkan kisah nyata dr. Hunter “Patch” Adams yang diperankan oleh Robin Williams.
Hasil penelitian ini adalah pelayanan kesehatan Patch Adams telah mengubah anggapan yang mengasumsikan bahwa dokter merupakan sosok yang tidak manusiawi dan dingin. Pelayanan Patch mengubah pandangan yang mengganggap dokter sebagai sosok “monster” yang menakutkan dan sebagai sosok “monster” yang kapitalistik. Patch Adams memberikan gambaran mengenai praktik pelayanan kesehatan yang dilakukan dengan penuh sukacita, hangat, manusiawi, dan gratis. Pelayanan ini didasarkan atas asumsi bahwa tugas dokter bukan hanya untuk menyembuhkan pasien dari penyakit tapi juga meningkatkan derajat kesehatan pasien. Hubungan dokter-pasien harus dibangun atas dasar saling percaya, harmonis, dan menekankan pentingnya hubungan personal. Patch mengungkap pelayanan kesehatan harus bisa diakses semua anggota masyarakat termasuk mereka dari kalangan kelas bawah.
Seorang dokter sudah semestinya dalam memberi pelayanan diiringi dengan sikap, tingkah laku, dan perkataan yang baik. Begitu pula hubungan antara dokter dan pasien harus ditingkatkan. Sekolah Kedokteran sebagai tempat tumbuhnya calon dokter diharapkan mampu menanamkan etika kedokteran yang baik dan benar.Rumah sakit harus mengutamakan kepentingan pasien, cepat, tepat, murah, menjunjung nilai kemanusiaan, dan harus bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai penerima layanan kesehatan. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan perlu menekankan perlunya aturan bagi setiap penyelenggara pelayanan kesehatan untuk senantiasa mengutamakan kebutuhan masyarakat (pasien), mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang tidak hanya cakap, namun juga bekerja sepenuh hati.
SUM

Keywords-
Citation Key1803
You are here