Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Diskusi Jurusan Ilmu Politik: Perguruan Tinggi Perlu Segera Respon Kelompok Islam Eksklusif

Perguruan Tinggi di Indonesia, termasuk Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), dianggap perlu segera membuat langkah-langkah nyata untuk merespon berkembangnya kelompok Islam eksklusif transnasional. Demikian salah satu kesimpulan dari hasil riset Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) yang dipaparkan dalam diskusi publik yang didukung oleh Jurusan Ilmu Politik FISIP Unsoed di Hotel Aston, Purwokerto pada Selasa (21/5). Respon itu diperlukan karena ide-ide keberagamaan yang eksklusif dianggap dapat mengancam kebhinekaan masyarakat.

Hasil riset itu juga menunjukkan bahwa ada tiga kelompok Islam eksklusif yang mendominasi Unsoed dan IAIN Purwokerto. Ketiganya adalah kelompok mahasiswa yang pernah bergabung dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang berafiliasi ke gerakan Tarbiyah, dan yang bergabung ke Salafi. Menurut Luthfi Makhasin, Ketua Jurusan Ilmu Politik Unsoed yang menjadi salah satu pembahasa hasil riset, pada dasarnya kelompok Salafi ini memiliki ketulusan untuk berintegrasi dengan komunitas Muslim di Purwokerto. “Sementara di level mahasiswa, kelompok mahasiswa KAMMI mampu tampil lebih cair dalam interaksinya dengan gerakan mahasiswa yang berbeda ideologi,” kata Luthfi.

Pembahas lain dari Jurusan Ilmu Politik Unsoed, Bowo Sugiarto, menyarankan agar tidak menyamaratakan semua kelompok Islam yang dianggap eksklusif. “Riset tersebut sebaiknya mengajukan eksplanasi yang lebih bernuansa tentang derajat keeksklusifan dari masing-masing kelompok itu. Sehingga respon Perguruan Tinggi terhadap masing-masing kelompok bisa tidak sama dan dipengaruhi konteks lokal sebagaimana yang disinggung oleh Luthfi Makhasin,” tandas Bowo.

Arizal Mutakhir, pembahas dari Jurusan Sosiologi Unsoed, mengajukan gagasan bahwa respon Perguruan Tinggi terhadap kelompok Islam eksklusif tidak melulu melalui wacana keagamaan tapi dapat juga melalui pendekatan budaya. Acara diskusi publik yang berjudul “Islam Eksklusif Transnasional Merebak di Kampus-kampus Negeri” tersebut di hadiri oleh civitas akademika FISIP Unsoed, baik jajaran Dekanat, dosen di lingkungan Unsoed, dan juga mahasiswa baik yang mewakili organisasi intra ataupun ekstra-kampus.

You are here