Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

DISKUSI dan BEDAH BUKU (ANAK MUDA DAN MASA DEPAN INDONESIA ) “RHIZOME’ FISIP UNSOED 2018

Purwokerto – Selasa (25/9) telah dilaksanakan acara diskusi dan bedah buku “Anak Muda dan Masa Depan Indonesia” di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Jenderal Soedirman. Dengan diadakannya acara tersebut semangat dari jiwa generasi muda bangsa Indonesia dapat dikawal demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Diskusi dan bedah buku dimulai pada pukul 10.00 WIB yang dihadiri oleh sejumlah perwakilan UKM/HMJ Fisip Unsoed dan tamu undangan serta hadir pula Pak Hariyadi, P.hD selaku pembina UKM Rhizome sekaligus akademisi dan tak lupa acara diskusi dan bedah buku menghadirkan paa narasumber dari berbagai latar belakang seperti Anis Saadah S.Sos (Penggerak Kopkun Institut Purwokerto), Barid Hardiyanto S.Sos M.Si (Plt. Manajer Pedesaan dan Kewirausahaan Sosial), dan Ahmad Sabiq S.IP.Ma (Akademisi).

Acara diskusi dan bedah buku diawali oleh beberapa sambutan dan dibuka secara resmi oleh Pak Hariyadi selaku pembina UKM Rhizome. Setelah itu dilanjutkan acara diskusi dengan diawali pemaparan materi yang berkaitan dengan buku dari Pak sabiq yang mengemukakan bahwa, beliau tidak menulis tentang politik namun terkait isu pendidikan. Menurutnya kaum milenial, secara kuantitas mempunyai kuantitas yang cukup besar dari estimasi sebagian besar membertikan angka 30% dari pemilih muda. Sebagai generasi millenial punya posisi yang sangat strategis. Generasi tua kalah dengan pemilih millenial. Belum ada pendidikan pemilihan untuk generasi millenial itu sendiri. Institusi penyelenggara pemilu atau kampus belum ada upaya untuk mencari terobosan-terobosan untuk generasi millenial.

Selanjutnya tentang karakter tidak semuanya benar. Jika dikatakan gejala umum mengapa tidak seperti itu dan tentang tulisan atau artikel yang ditulisnya dalam buku tentang persoalan pendidikan di indonesia dimana, jika dibandingkan dengan india itu ada suatu hal yang sangat berbeda, waktu kuliah itu banyak orang india yang hebat. Dosen-dosen yang di Belanda itu banyak yang india. Setelah kita lihat mengapa sama-sama negara miskin kemudian jumlah penduduknya besar tapi orang india itu sudah banyak yang dapat nobel termasuk dalam ilmu sosial. Sudah bisa menyaingi yang di amerika itu salah satunya anggaran untuk pendidikan itu besar tapi betul-betul ditunjukan untuk hal yang sangat mendasar. Selanjutnya pemaparan dari mba Anis, menurutnya ada 2 mental anak muda yaitu mental pesenjar artinya duduk dibelakang. Dan mental driver dimana dia yang memikirkan bagaimana sampai tujuan. Contoh Soekarno sejak kecil dititipkan dikakeknya, dimana jaman dahulu orang sudah merantau jauh dan perlu diapresiasi. Kemudian yang kedua anak yang berhenti sekolah waktu SMP yaitu Menteri Puji Astuti dimana ia bermental driver yang mampu mengubah dunia. Point kedua masyarakat indonesia itu 50.000 juta dari Sabang sanpai Merauke. Dimana banyak koperasi, kebanyakan koperasi di Indonesia itu buruk. Koperasi banyak yang tidak adil. Demokratisasi ekonomi sangat besar. Padahal demokratisasi

You are here