Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

‘Peer Educator’ Bekali Siswa sebagai Agen Anti Trafficking di Banyumas


Human Trafficking merupakan masalah yang hampir dialami oleh semua negara di dunia. Berdasarkan data United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), jumlah korban trafficking di dunia adalah 2 sampai 4 juta orang (http://arkofhopeforchildren.org/child-trafficking/child-trafficking-stat...).

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menghadapi permasalahan yang sama terkait dengan human trafficking. Data IOM Indonesia dari Trafficking Victim Assistance Fund menunjukkan bahwa 85% korban perdagangan orang yang menerima bantuan IOM dibawa keluar Indonesia  oleh Jasa Penyalur TKI yang terdaftar atau oleh agen terkait. Beberapa Jasa Penyalur resmi,  berkolusi dengan mitra bisnis setempat, beroperasi dengan cara yang mirip dengan lingkaran pelaku perdagangan manusia, yaitu dengan menahan dokumen perjalanan sang tenaga kerja atau memberikan ancaman kekerasan untuk memaksa buruh tersebut dalam kondisi kerja paksa, terutama bagi para buruh yang bekerja di sektor domestik yang cenderung tidak tersentuh regulasi seperti pembantu rumah tangga.  (https://indonesia.iom.int/id/mendukung-migrasi-tenaga-kerja-yang-aman-di...).

Kabupaten Banyumas adalah Kabupaten dengan jumlah pekerja Buruh Migran yang tinggi. Sebagai kantong Buruh Migran, Banyumas rawan terjadi kegiatan trafficking. Berdasarkan penelitian Tyas Retno Wulan dkk (2015) dalam kurun waktu 2009-2014 terjadi banyak kasus yang menimpa buruh migran asal Banyumas.  Pada tahun 2009 tercatat ada 6 kasus trafficking. Mayoritas  BMI ini berangkat ke luar ngeri pertama kali dengan pendidikan SMP. Usia yang masih belia dan pendidikan yang masih dasar menimbulkan persoalan sendiri bagi para calon buruh migran.  Sehingga pada taraf ini dibutuhkan sebuah metode untuk pencegahan trafiiking bagi usia muda.

Berdasar permasalahan diatas, Pusat Penelitian Gender, Anak dan Pelayanan Masyarakat, LPPM, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto mengadakan pelatihan dengan judul Pelatihan Peer Educator (Pendidik Teman Sebaya) Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk Mencegah Trafficking di Kabupaten Banyumas. Tim Pengabdian yang dimotori Dosen Fisip Dr. Tyas Retno Wulan beranggotakan M.Si, Sri Wijayanti, M.Si, Nurul  Azizah Zayzda, M.A , Ratna Dewi, M.Si (FISIP), Novita Puspitasari ,Ak, M.Sc (FE), Ibnu Zaki, M.Gz (FiKes).

Berlokasi di SMP 2 Sokaraja, pengabdian ini diikuti oleh siswa kelas IX.  Sebagaimana kita ketahui, Kec. Sokaraja kab. Banyumas Jawa Tengah yang merupakan kecamatan dengan jumlah BMI no. 2 tertinggi di kabupaten tersebut.  Para siswa ini sangat antusias dan aktif dalam mengikuti kegiatan yang disusun oleh tim pengabdian. Agar para remaja memahami materi dengan baik, maka penyampaian materi dilakukan dengan metode yang fun. Pelatihan diawali dengan pemaparan tentang traffiking oleh Dr. Tyas Retno Wulan. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi dan role play yang dipandu oleh tim pengabdian. Pelatihan ini diakhiri dengan membuat aksi berupa tulisan dari siswa tentang traffiking di kertas warna warni yang diletakkan di depan sekolah. Tulisan ini diharapkan akan dibaca oleh siswa lain sehingga informasi tentang traffiking akan diketahui oleh semua siswa di sekolah.  Aksi ini adalah salah satu wujud keinginan para siswa sebagai agen anti traffiking untuk menyelamatkan orang lain dari bahaya traffiking. Dengan gerakan #i’ll save you dan #anti traffiking agent, PPGAPM memaknai  kemerdekaan Republik Indonesia  ke 71 dengan mencegah  traffiking melalui pembentukan agen-agen anti trafficking. (SW HI).
 

You are here